ikhlas

“Saya sudah ikhlaskan dia pergi kawan, mungkin ini yang terbaik yang Allah berikan kepada saya “, begitu ujar  seorang kawan  kepada  saya suatu ketika Ibunya meninggal beberapa tahun lalu, masih segar dalam ingatan betapa dia  (kawan saya ) tegar dan tak Nampak sedikitpun air mata keluar dari mata yang asimetrisnya ( jika istilah juling  terlalu berlebihan ) padahal beberapa waktu lalu ibunya masih sehat walafiat,, namun itulah Takdir, kadang peristiwa apapun tidak pernah kita bisa prediksi , tidak ada firasat seperti  cerita beberapa orang yang mendapatkan hal-hal aneh pertanda akan ada hal besar yang datang. Dia tetap tegar, meski dia sendiri pasti sadar ini adalah berarti untuk hari ini dan hari berikutnya tidak aka nada lagi sosok ibu yang mengayominya dan mendewasakan psikologisnya dengan muatan moral yang tidak akan anda temui disekolah ataupun orang lain dimanapun, dengan kasih sayangnya anda mampu mampu melunakkan hidup anda, penyeimbang dalam kehidupan. Saat itu betapa irinya saya menyaksikan sikap kawan saya ini, subhanallah

Tahukah anda ikhlas itu apa ?

Jangan menunggu jawaban dari saya, karena sayapun masih mendalaminya. Tapi berdasarkan pemahaman saya ikhlas itu adalah rela melakukan sesuatu tanpa berharap adanya balasan kecuali dari Allah SWT, dan kedudukan ikhlas itu sendiri adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Sedangkan Ikhlas berdasarkan istilah sendiri  berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Pernahkah anda merasakan tidak ikhlas terhadap suatu hal ?

saya sendiri pernah dan masih sering merasakan keadaan itu, selalu ada saja alasan untuk enggan melaksanakan hal apalagi melepaskan sesuatu dengan ikhlas, terlebih jika itu berkaitan dengan upaya yang telah kita lakukan, “perhitungan banget” celoteh kawan saya tanpa sadar ketika saya menggerutu sewaktu disuruh kerja bakti dilingkungan RT. Yah realitanya memang begitu. susah untuk selalu bersikap ikhlas  secara berkelanjutan apalagi jika amalan yang dilakukan itu berhubungan dengan sesama atau ada interaksi dengan orang lain J tapi bukan berarti saya tidak pernah ikhlas lho… namanya juga manusia, tempatnya salah dan khilaf, begitulah jawaban diplomatis yang dulu pernah jadi slogan saya…heee (walau sekarang masih diucapkan tapi hanya pas kepepet aja ko )

Ikhlas, kata yang cukup simple, tapi penerapannya kadang memang susah jika kita mengaitkan motif utamanya dengan urusan keduniaan, dan akan sangat mudah dilakukan jika kita hanya mengharapkan Ridha Allah SWT,  saya coba untuk selalu mengingat itu dan menerapkannya, meski kadang dalam prosesnya selalu ada saja terbesit beberapa pikiran – pikiran jelek menghinggapi seperti ingin diperhatikan atau, berharap ada balasan suatu saat. Kalo sudah begitu biasanya saya mengatasinya dengan cepat-cepat melupakannya atau bersegera melakukan kegiatan lain sembari ber istighfar, semoga apa yang saya kerjakan tidak sia – sia hanya karena pikiran riya seperti itu.

Saya teringat akan perkataan KH. Zainudin MZ dalam sebuah dakwahnya di salah satu station tivi, beliau berkata “ ikhlas itu seperti kita buang hajat, tidak pernah kita mengharap ia kembali” analogi yang sedikit nyeleneh memang, tapi maknanya sangat mengena bagi saya, betapa tidak, coba anda bayangkan apakah anda pernah mengharapkan apa yang anda “ buang ‘ itu kembali ?, walaupun awalnya dia berasal dari makanan yang anda makan, mau soto, spagety, nasi tumpeng atau sekedar gorengan singkong, tetap saja hasil akhirnya akan anda buang begitu saja,kecuali saripati yang akan diolah oleh tubuh menjadi energi yang dibutuhkan tubuh. sama halnya dengan apa yang anda perbuat, entah itu pekerjaan yang ringan yang tidak perlu mengeluarkan energi maupun biaya yang besar ataupun perbuatan yang cukup menyita waktu anda, tetap saja kita harus ikhlas dalam menjalaninya, bukankah ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.” sebab dengan begitu kita akan merasa bahwa apa yang kita kerjakan tersebut terasa nikmat dan tanpa beban, ya karena tidak adanya target sentimental dari pemenuhan ego kita, bekerja keras hanya karena diperhatikan saja, memberi hanya karena ingin dipuji, tidak bisa menerima keadaan yang sesungguhnya kita tidak memiliki hak atas semua itu, melainkan hanya titipan saja dari Allah.

Alangkah nikmatnya semua hal jika kita selalu menyertainya dengan sikap ikhlas,