Patah hati
dari hitam aku menggenggam
sepi senja yang kau kirimkan
kian terasa disaat luka
…
awan mendung merona
tak kelam sedikit berbuih
matahari merah dan bulan menampak rupa
ahh malam datang lagi
dari hitam aku menggenggam
sepi senja yang kau kirimkan
kian terasa disaat luka
…
awan mendung merona
tak kelam sedikit berbuih
matahari merah dan bulan menampak rupa
ahh malam datang lagi
cobalah sejenak kau menerawang
dalam malam mendekap
bulan, bintang, awan sekedar terlihat putih
dan tatapanmu terhenti
disatu titik yang tak kau mengerti
coba saja kau ucapkan
kata terindah yang pernah kau baca
atau manisnya rayuan cinta
sungguhpun tak’an mampu kau lalui ini
bagian jiwa yang kumiliki
kekosonganmu yang tersembunyi
Cinta meracun di jalanan
terhempas angin terpendam
di sela gedung dan trotoar jalan
terbawa arus metropolitan
sebentar hinggap dalam pelukan
…
langit membiru
dan awan menjadi benalu disaat itu
ahhh indah kurasakan cinta mengharu
dalam senyuman, dalam kelukaan
tak beda rasa keduanya..
masih berjalan diantara keramaian
menerjang jalang dalam pikiran
dirimu serupa fatamorgana di gurun sahara
bias lautan dikejauhan.
aku gontai berjalan
pagi
enggan kuberjalan lagi
tak tentu arah kudapati
hilang peran, sesaat terbungkam dalam imaji
kini…
dunia semati tugu
menjalar jauh hingga waktu menyadarkan
INI HANYA SESAAT WAKTU TEMPAT BERTEMU REALITAS YANG BUKAN TUK KUMILIKI
aku kembali….
Thomas 6:57 pm pada April 7, 2010 Permalink |
Hm…ayo segera bangkit! Dunia tak selebar daun kelar…patah hilang tumbuh berganti!
hermantea 10:48 pm pada April 7, 2010 Permalink |
iya mas, makasih